Sabtu, 12 Mei 2012

HARRY POTTER and the Order of the Phoenix-- BAB SATU -- Dudley Diserang Dementor


HARRY  POTTER
and the Order of  the Phoenix


-- BAB  SATU --
Dudley Diserang Dementor

Hari terpanas sejauh ini pada musim panas telah mulai berakhir dan keheningan yang membuat mengantuk melanda rumah-rumah besar berbentuk bujursangkar di Privet Drive. Mobil-mobil yang biasanya mengkilat diliputi debu di jalan-jalan masuk dan halaman-halaman yang dulunya hijau jamrud terbentang kering dan menguning -- karena penggunaan pipa air telah dilarang akibat kekeringan. Dirampas dari kebiasaan mencuci mobil dan memotong rumput halaman mereka, para penghuni Privet Drive telah mengundurkan diri ke dalam lindungan rumah-rumah mereka yang teduh, dengan jendela-jendela dibuka lebar-lebar untuk memancing masuknya angin sepoi-sepoi yang memang tidak ada. Satu-satunya orang yang berada di luar rumah adalah seorang remaja lelaki yang sedang berbaring telentang pada bedeng bunga di luar nomor empat.
   Dia adalah seorang anak laki-laki kurus, berambut hitam, dan berkacamata yang memiliki tampilan wajah kurus, agak kurang sehat seperti seseorang yang telah tumbuh begitu banyak dalam waktu singkat. Celana jinsnya robek dan kotor, baju kaosnya kedodoran dan sudah pudar, dan sol sepatu olahraganya terkelupas dari bagian atas sepatu. Penampilan Harry Potter tidak membuatnya disenangi para tetangga, yang merupakan jenis orang-orang yang  menganggap ketidakrapian seharusnya dapat dihukum dengan undang-undang, tetapi karena dia telah menyembunyikan dirinya di belakang sebuah semak hydrangea besar malam ini, dia cukup kasat mata bagi orang-orang yang lewat. Kenyataannya, satu-satunya cara dia dapat terlihat adalah bila Paman Vernon atau Bibi Petunianya menjulurkan kepala-kepala mereka keluar dari jendela ruang tamu dan melihat langsung ke bedeng bunga di bawahnya.
   Secara keseluruhan, Harry berpikir dia seharusnya diberi selamat atas idenya bersembunyi di sini. Mungkin dia tidak begitu nyaman berbaring di atas tanah yang panas dan keras tetapi, di sisi lain, tidak ada orang yang melotot kepadanya, menggertakkan gigi-gigi mereka demikian kerasnya sehingga dia tidak dapat mendengarkan warta berita, atau menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyenangkan kepadanya, seperti yang telah terjadi setiap kali dia mencoba duduk di ruang tamu untuk menonotn televisi dengan paman dan bibinya.
   Hampir seperti pikiran ini melayang melalui jendela yang terbuka, Vernon Dursley, paman Harry, tiba-tiba berkata.
   'Senang melihat bocah itu sudah berhenti mengganggu. Ngomong-ngomong, di mana dia?'
   'Tidak tahu,' kata Bibi Petunia, tidak khawatir. 'Tidak di dalam rumah.'
   Paman Vernon menggerutu.
   'Menonton warta berita ...' dia berkata dengan pedas. 'Aku ingin tahu apa maksud dia yang sebenarnya. Seperti anak normal peduli saja apa yang ada di warta berita -- Dudley sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi;  aku ragu dia tahu siap yang menjadi Perdana Menteri! Lagipula, bukannya akan ada apapun mengenai kelompokknya di berita kita --'
   'Vernon, shh!' kata Bibi Petunia. 'Jendelanya terbuka!'
   'Oh -- ya -- maaf, sayang.'
   Keluarga Dursley terdiam. Harry mendengarkan jingel mengenai sereal sarapan pagi Fruit 'n' Bran sementara dia memperhatikan Mrs Figg, seorang wanita tua pecinta kucing yang agak sinting dari Wisteria Walk yang letaknya tidak jauh, lewat pelan-pelan. Dia sedang merengut dan bergumam pada dirinya sendiri. Harry sangat senanga dirinya tersembunyi di belakang semak, karena belakangan ini Mrs Figg sering mengajaknya minum teh kapanpun mereka berjumpa di jalan. Dia telah membelok di sudut dan menghilang dari pandangan sebelum suara Paman Vernon melayang keluar jendela lagi.
   'Dudders keluar minum teh?'
   'Di rumah Polkiss,' kata Bibi Petunia dengan penuh sayang. 'Dia punya begitu banyak teman kecil, dia begitu populer ...'
   Harry menahan dengusan dengan susah payah. Keluarga Dursley benar-benar bodoh jika menyangkut anak mereka, Dudley. Mereka menelan semua kebohongannya tentang minum teh bersama anggota gengnya yang berlainan setiap malam pada liburan musim panas. Harry tahu sekali bahwa Dudley tidak minum teh di manapun; dia dan gengnya menghabiskan setiap malam merusak taman bermain, merokok di sudut-sudut jalan dan melempar batu-batu pada mobil-mobil dan anak-anak yang lewat. Harry telah melihat mereka melakukannya selama jalan-jalan malamnya di sekitar Little Whinging; dia telah melewati sebagian besar liburan dengan berkeliaran di jalan-jalan, memunguti surat kabar dari tong-tong sampah yang dijumpainya.
   Not-not pembukaan dari musik yang mengawali warta berita pukul tujuh malam mencapai telinga Harry dan perutnya serasa terbalik. Mungkin malam ini -- setelah penantian sebulan  -- akan menjadi malam yang dinanti.
   'Orang-orang yang sedang berlibur yang mengalami penundaan memenuhi lapangan-lapangan terbang dalam jumlah yang memcahkan rekor, sementara pemogokan para pengurus bagasi Spanyol mencapai minggu kedua --'
   'Berikan mereka tidur siang seumur hidup, itu yang akan kulakukan,' geram Paman Vernon di akhir kalimat si pembaca berita, tetapi tidak mengapa: di luar di bedeng bunga, perut Harry sepertinya melunak. Jika ada yang terjadi, pastilah menjadi hal pertama dalam warta berita; kematian dan kehancuran lebih penting daripada orang berlibur yang tertunda.
   Dia mengeluarkan napas panjang dan pelan dan menatap langit biru cemerlang. Setiap hari dalam musim  panas ini sama saja: ketegangannya, pengharapannya, kelegaan sesaat, dan kemudian ketegangan yang memuncak lagi ... dan selalu, tumbuh semakin kuat sepanjang waktu, pertanyaan kenapa belum ada yang terjadi.
   Dia terus mendengarkan, kalau-kalau ada petunjuk kecil, yang tidak disadari para Muggle -- orang yang menghilang tanpa penjelasan, mungkin, atau beberapa kecelakan aneh ... tetapi pemogokan para pengurus bagasi diikuti oleh berita mengenai kekeringan di Tenggara ('Kuharap dia sedang mendengarkan di rumah sebelah!' teriak Paman Vernon, 'Orang itu dengan penyembur airnya yang nyala pada pukul tiga pagi!'), lalu sebuah helikopter y ang hampir jatuh ke sebuah ladang di Surrey, kemudian perceraian seorang aktris tenar dari suaminya yang terkenal ('Seperti kita peduli saja dengan urusan-urusan mereka yang kotor,' dengus Bibi Petunia, yang telah mengikuti kasus tersebut dengan obsesif di semua majalah yang dapat diraihnya dengan tangan kurusnya).
   Harry menutup matanya dari langit malam yang sekarang telah berkobar ketika pembaca berita berkata, '-- dan akhirnya, Bungy si berang-berang telah menemukan cara baru untuk tetap sejuk di musim panas ini. Bungy, yang tinggal di Five Feathers di Barnsley, telah belajar ski air! Mary Dorkins pergi untuk mencari tahu lebih banyak.'
   Harry membuka matanya. Jika mereka telah mencapai berang-berang yang berski-air, tidak akan ada lagi yang patut didengar. Dia berguling dengan hati-hati dan bangkit bertumpu pada lutut dan sikunya, bersiap-siap untuk merangkak keluar dari bawah jendela.
   Dia telah berpindah sekitar dua inci ketika beberapa hal terjadi dalam urutan yang sangat cepat.
   Sebuah bunyi letusan keras yang menggema memecahkan keheningan seperti bunyi tembakan; seekor kucing melintas keluar dari bawah sebuah mobil yang diparkir dan hilang dari pandangan; sebuah pekikan, teriakan sumpah serapah dan suara porselen yang pecah datang dari ruang tamu keluarga Dursley, dan ini seakan-akan merupakan tanda yang telah ditunggu Harry karena dia melompat ke atas kedua kakinya, pada saat yang sama menarik keluar dari ban pinggang celana jinsnya sebuah tongkat kayu kurus seperti mengeluarkan pedang dari sarungnya -- tetapi sebelum dia dapat berdiri tegak, bagian atas kepalanya terantuk jendela keluarga Dursley yang terbuka. Benturan yang diakibatkannya membuat Bibi Petunia menjerit lebih keras lagi.
   Harry merasa seakan-akan kepalanya telah terpecah menjadi dua. Dengan mata berair, dia terhuyung-huyung, mencoba untuk berfokus pada jalan ke titik sumber suara tersebut, tetapi belum lagi dia berdiri tegak ketika dua tangan ungu yang besar menjulur dari jendela terbuka dan menutup dengan ketat di sekitar tenggorokannya.
   'Simpan -- benda -- itu!' Paman Vernon menggeram ke dalam telinga Harry. 'Sekarang! Sebelum -- dilihat -- orang lain!'
   'Lepaskan -- aku!' Harry terengah-engah. Selama beberapa detik mereka bergumul, Harry menarik jari-jari pamannya yang mirip sosis dengan tangan kirinya, tangan kanannya mempertahankan genggaman erat pada tongkatnya yang terangkat; kemudian, ketika rasa sakit di bagian atas kepala Harry berdenyut-denyut dengan sangat menyakitkan, Paman Vernon mendengking dan melepaskan Harry seakan-akan dia telah menerima kejutan listrik. Kekuatan yang tidak tampak sepertinya telah menyentak melalui keponakannya, membuatnya tidak mungkin dipegang.
   Sambil terengah-engah, Harry jatuh ke depan ke atas semak hydrangea, menegakkan diri dan menatap sekeliling. Tidak ada tanda apa yang telah menyebabkan bunyi letusan keras itu, tetapi ada beberapa wajah yang menatap melalui berbagai jendela yang berdekatan. Harry buru-buru memasukkan tongkatnya kembali ke dalam celana jinsnya dan mencoba terlihat tidak bersalah.
   'Malam yang indah!' teriak Paman Vernon, sambil melambai pada Nyonya Nomor Tujuh di seberang, yang sedang membelalakkan matanya dari balik gorden jalanya. 'Apakah Anda mendengar mobil yang mengeluarkan letusan tadi? Membuat Petunia dan aku terkejut sekali!'
   Dia terus menyengir dengan cara yang mengerikan dan seperti orang gila sampai para tetangga yang ingin tahu menghilang dari jendela-jendela mereka, kemudian sengiran itu menjadi ringisan marah sewaktu dia memberi isyarat kepada Harry untuk menghadapnya.
   Harry mendekat beberapa langkah, sambil berjaga-jaga agar berhenti sebelum titik di mana tangan-tangan terentang Paman Vernon dapat melanjutkan cekikannya.
   'Apa maksudmu dengan melakukan hal itu, nak?' tanya Paman Vernon dengan suara parau yang gemetar oleh amarah.
   'Apa maksudku dengan apa?' kata Harry dingin. Dia terus melihat ke kiri dan ke kanan jalan, masih berharap untuk melihat orang yang telah membuat suara letusan tersebut.
   'Membuat keributan seperti suara pistol meletus tepat di luar --'
   'Aku tidak membuat suara tadi,' kata Harry dengan tegas.
   Wajah Bibi Petunia yang kurus dan mirip kuda sekarang muncul di sebelah wajah Paman Vernon yang lebar dan ungu. Dia tampak marah sekali.
   'Mengapa kamu mengintai di bawah jendela kami?'
   'Ya -- ya, poin yang bagus, Petunia! Apa yang sedang kamu lakukan di bawah jendela kami, nak?'
   'Mendengarkan warta berita,' kata Harry dengan suara pasrah.
   Bibi dan pamannya saling memandang dengan pandangan marah.
   'Mendengarkan warta berita! Lagi?'
   'Well, kalian 'kan tahu, beritanya ganti setiap hari,' kata Harry.
   'Jangan sok pintar di depanku, nak! Aku ingin tahu apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan -- dan jangan beri aku omong kosong mendengarkan warta berita itu lagi! Kamu tahu benar bahwa kelompokmu --'
   'Hati-hati, Vernon!' sahut Bibi Petunia, dan Paman Vernon menurunkan suaranya sehingga Harry hampir tidak dapat mendengarnya, '-- bahwa kelompokmu tidak masuk ke dalam warta berita kami!'
   'Itu menurutmu,' kata Harry.
   Keluarga Dursley menatapnya selama beberapa detik, kemudian Bibi Petunia berkata, 'Kamu pembohong kecil. Apa yang dilakukan semua --' dia juga menurunkan suaranya sehingga Harry harus membaca gerak bibirnya untuk kata berikutnya, '--burung hantu itu lakukan jika mereka tidak membawakan kamu berita?'
   'Aha!' kata Paman Vernon dengan bisikan kemenangan. 'Ayo berkelit dari yang satu itu, nak! Seakan-akan kami tidak tahu kamu memperoleh semua beritamu dari burung-burung pengganggu itu!'
   Harry bimbang sejenak. Berkata jujur kali ini akan merugikannya, bahkan walaupun bibi dan pamannya tidak mungkin tahu bagaimana buruk perasaannya untuk mengakui hal itu.
   'Burung hantu ... tidak membawakanku berita apa-apa,' dia berkata tanpa nada.
   'Aku tidak percaya,' kata Bibi Petunia segera.
   'Aku juga tidak,' kata Paman Vernon dengan kuat.
   'Kami tahu kamu sedang merencanakan sesuatu yang aneh,' kata Bibi Petunia.
   'Kami 'kan tidak bodoh,' kata Paman Vernon.
   'Itu berita baru bagiku,' kata Harry, amarahnya meningkat, dan sebelum keluarga Dursley bisa memanggilnya kembali, dia sudah berbalik, menyeberangi halaman depan, melewati tembok kebun yang rendah, dan melangkah menyusuri jalan.
   Dia sedang berada dalam masalah sekarang dan dia tahu itu. Dia harus menghadapi bibi dan pamannya nanti dan membayar kekasarannya tadi, tetapi dia tidak begitu peduli saat ini; dia punya masalah yang lebih menuntut pikiran.
   Harry yakin bunyi letusan tadi dibuat oleh seseorang yang ber-Appate atau ber-Disapparate. Bunyinya persis seperti suara yang dibuat Dobby si peri-rumah ketika dia menghilang ke udara. Mungkinkah Dobby ada di Privet Drive? Apakah Dobby sedang mengikutinya saat ini? Ketika pikiran ini timbul dia berbalik dan menatap Privet Drive, tetapi jalan itu tampak lengang dan Harry yakin Dobby tidak tahu bagaimana caranya menjadi kasat mata.
   Dia terus berjalan, hampir tidak menyadari rute yang diambilnya, karena dia telah melewati jalan-jalan ini begitu seringnya akhir-akhir ini sehingga kakinya secara otomatis membawanya ke tempat-tempat tongkrongan favoritnya. Setiap beberapa langkah sekali dia menoleh ke balik bahunya. Seseorang dari dunia sihir telah berada di dekatnya ketika dia berbaring di antara bunga-bunga begonia Bibi Petunia yang mulai layu, dia yakin akan hal itu. Mengapa mereka tidak berbicara kepadanya, mengapa mereka tidak melakukan kontak, mengapa mereka bersembunyi sekarang?
   Dan kemudian, ketika rasa frustrasinya memuncak, perasaan pastinya mulai luntur.
   Mungkin itu sama sekali bukan bunyi sesuatu yang berbau sihir. Mungkin dia begitu mengharapkan tanda sekecil apapun akan kontak dari dunia tempatnya berada sehingga dia bereaksi berlebihan terhadapa bunyi yang benar-benar umum. Dapatkah dia merasa yakin bahwa itu bukan bunyi barang pecah di rumah tetangga?
   Harry merasakan suatu sensasi menjemukan dan berat di perutnya dan sebelum dia sadar perasaan tidak ada harapan yang telah mengganggunya sepanjang musim panas timbul sekali lagi.
   Besok pagi dia akan dibangunkan oleh jam weker pada pukul lima pagi sehingga dia bisa membayar burung hantu yang membawakannya Daily Prophet -- tetapi apalah artinya terus berlangganan? Belakangan ini Harry hanya memandang halaman depan sekilas sebelum melemparnya ke samping; ketika para idiot yang menjalankan surat kabar tersebut akhirnya sadar bahwa Voldermort telah kembali itu akan menjadi berita halaman depan, dan itu adalah satu-satunya berita yang dipedulikan Harry.
   Jika dia beruntung, akan ada juga butung-burung hantu yang membawa surat-surat dari sahabat-sahabat dekatnya Ron dan Hermione, walaupun harapan-harapan yang dimilikinya bahwa surat-surat mereka akan membawa berita kepadanya telah lama hilang.
   Kami tidak dapat berkata banyak mengenai kamu-tahu-apa, tentu saja ... Kami telah diberitahu untuk tidak mengatakan hal-hal penting kalau-kalau surat kami tersesat ... Kami cukup sibuk tetapi aku tidak bisa memberi detil di sini ... Ada banyak hal yang sedang berlangsung, kami akan memberitahumu semuanya ketika kita berjumpa ...
   Tetapi kapan mereka akan berjumpa dengannya? Tidak seorangpun tampak cukup repot untuk mengatakan tanggal pastinya. Hermione telah menulis tergesa-gesa Kuharap kita akan berjumpa segera di dalam kartu ulang tahunnya, tetapi seberapa cepatkah segera itu? Sejauh yang dapat diketahui Harry dari petunjuk-petunjuk samar dalam surat-surat mereka, Hermione dan Ron berada di tempat yang sama, mungkin di rumah orang tua Ron. Dia hampir tidak tahan berpikir bahwa keduanya bersenang-senang di The Burrow ketika dirinya terperangkap di Privet Drive. Kenyataannya, dia sangat marah kepada mereka sehingga dia membuang, tanpa dibuka terlebih dahulu, dua kotak cokelat Honeydukes yang telah mereka kirimkan kepadanya pada ulang tahunnya. Dia menyesali hal itu kemudian, setelah memakan salad layu yang disediakan Bibi Petunia untuk makan malam pada malam tersebut.
   Dan apa yang disibukkan Ron dan Hermione? Mengapa dia, Harry, tidak sibuk? Tidakkah dia telah membuktikan diri mampu menghadapi jauh lebih banyak daripada mereka? Apakah mereka semua telah melupakan apa yang telah dia lakukan? Bukankan dia yang telah memasuki pemakaman itu, dan menyaksikan Cedric dibunuh, dan telah diikat pada batu nisan itu dan hampir terbunuh?
   Jangan memikirkan hal itu, kata Harry dengan tegas kepada dirinya sendiri. Sudah cukup buruk bahwa dia terus mengunjungi kembali pemakaman itu dalam mimpi-mimpi buruknya, tanpa harus menghadapi hal itu juga pada saat-saat dia terbangun.
   Dia membelok di sudut ke Magnolia Crescent; di tengah jalan dia melewati gang sempit di sebelah sebuah garasi di mana dia pertama kali berjumpa dengan ayah angkatnya. Sirius, setidaknya, tampaknya mengerti bagaimana perasaan Harry. Memang, surat-suratnya sama kosongnya akan berita yang pantas dengan surat-surat Ron dan Hermione, tetapi setidaknya mereka mengandung kata-kata peringatan dan penghiburan bukannya petunjuk-petunjuk yang menggoda: Aku tahu ini pasti membuatmu frustrasi ... Jaga sikapmu dan semuanya akan baik-baik saja ... Berhati-hatilah dan jangan melakukan apapun dengan gegabah ...
   Well, pikir Harry, sementara dia menyeberangi Magnolia Crescent, membelok ke Magnolia Road dan menuju taman bermain yang semakin gelap, dia telah (kurang lebih) melakukan apa yang dinasehati Sirius. Setidaknya dia telah melawan godaan untuk mengikat kopernya ke sapunya dan terbang ke The Burrow sendiri. Bahkan, Harry menganggap perilakunya sangat baik mengingat betapa frustrasi dan marah perasaannya terperangkap di Privet Drive begitu lama, harus bersembunyi di bedeng bunga dengan harapan mendengar apa yang sedang dilakukan Lord Voldermort. Walaupun begitu, rasanya agak menyakitkan disuruh jangan gegabah oleh orang yang telah menjalani dua belas tahun di penjara sihir, Azkaban, meloloskan diri, mencoba melaksanakan pembunuhan yang dituduhkan kepadanya sejak awal, lalu melarikan diri dengan Hipprogriff curian.
   Harry melompati gerbang taman yang terkunci dan menyeberangi rumput kering. Taman itu kosong seperti jalan-jalan di sekelilingnya. Ketika dia sampai di ayunan dia menjatuhkan diri ke satu-satunya yang belum dirusak Dudley dan teman-temannya, melingkarkan satu lengan pada rantainya, dan menatap tanah dengan murung. Dia tidak akan bisa lagi bersembunyi di bedeng bunga. Besok dia harus mencari cara baru mendengarkan warta berita. Sementara itu, dia tidak memiliki hal lain untuk dinantikan, kecuali malam yang penuh kegelisahan, bahkan ketika dia lolos dari mimpi-mimpi buruk mengenai Cedric, dia mengalami mimpi-mimpi yang berubah-ubah, yang dipenuhi dengan koridor-koridor panjang yang gelap, semuanya berakhir dengan jalan-jalan buntu dan pintu-pintu terkunci, yang dianggapnya berhubungan dengan perasaan terperangkap yang dirasakannya ketika terbangun.
   Seringkali bekas luka lamanya menusuk-nusuk menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi dia tidak membodohi diri sendiri bahwa Ron atau Hermione atau Sirius masih menganggap hal itu menarik. Di masa lalu, bekas lukanya yang sakit telah memberi peringatan bahwa Voldermort bertambah kuat lagi, tetapi sekarang karena Voldermort telah kembali mereka mungkin akan mengingatkan dirinya bahwa gangguan teratur hanyalah sesuatu yang telah diharapkan ... tidak ada yang perlu dikhawatirkan ... berita lama ...
   Ketidakadilan semuanya itu menumpuk dalam dirinya sehingga dia ingin berteriak karena marah. Jika bukan karena dirinya, bahkan tidak akan ada yang tahu bahwa Voldermort sudah kembali! Dan ganjaran baginya adalah terperangkap di Little Whinging selama empat minggu penuh, sama sekali terputus dari dunia sihir, harus berjongkok di antara bunga-bunga begonia yang mulai layu sehingga dia dapat mendengar mengenai berang-berang yang berski-air! Bagaimana Dumbledore dapat melupakan dirinya dengan begitu mudahnya? Mengapa Ron dan Hermione berkumpul tanpa mengundangnya juga? Berapa lama lagi dia harus menerima Sirius menyuruhnya untuk duduk dengan baik dan menjadi anak yang baik; atau menahan godaan untuk menulis kepada Daily Prophet bodoh itu dan menunjukkan bahwa Voldermort telah kembali? Pikiran-pikiran penuh amarah ini berpusar dalam pikiran Harry, dan bagian dalam tubuhnya menggeliat dengan rasa marah sementara malam yang panas dan pengap dan selembut beludru menyelimuti dirinya, udara penuh dengan bau rumput yang hangat dan kering, dan satu-satunya suara yang ada hanyalah suara rendah dari lalu lintas di jalan di luar jeruji taman.
   Dia tidak tahu berapa lama dia telah duduk di ayunan itu sebelum suara percakapan menghentikan renungannya dan dia melihat ke atas. Lampu-lampu jalan dari jalan-jalan di sekitar menyorotkan cahaya menyerupai kabut yang cukup kuat untuk menampakkan siluet sekelompok orang yang sedang menyeberangi taman. Salah satunya sedang menyanyikan sebuah lagu sederhana dengan bising. Yang lainnya sedang tertawa. Suara detik lemah datang dari beberapa sepeda balap mahal yang sedang mereka setir.
   Harry tahu siapa orang-orang itu. Figur di depan tak salah lagi adalah sepupunya, Dudley Dursley, sedang berjalan pulang, ditemani oleh gengnya yang setia.
   Dudley masih segemuk dulu, tetapi satu tahun berdiet keras dan penemuan bakat baru telah membuat cukup banyak perubahan pada fisiknya. Seperti yang diceritakan Paman Vernon kepada siapapun yang akan mendengarkan, Dudley baru-baru ini telah menjadi Juara Tinju Kelas Berat Antar-Sekolah Junior dari daerah Tenggara. 'Olah raga mulia' seperti yang disebut Paman Vernon, telah menjadikan Dudley bahkan lebih berbahaya daripada yang dirasakan Harry di masa-masa sekolah dasar mereka ketika dia menjadi karung tinju Dudley yang pertama. Harry sama sekali tidak takut kepada sepupunya lagi tetapi dia masih berpikir bahwa Dudley belajar peninju lebih keras dan lebih akurat bukanlah merupakan sesuatu yang harus dirayakan. Anak-anak di lingkungan sekitar semuanya takut kepadanya -- bahkan lebih takut daripada kepada 'bocah Potter itu' yang, mereka telah diperingatkan, merupakan anak nakal yang tidak pernah kapok dan bersekolah di Pusat Rehabilitasi bagi Anak-Anak Kriminal Tidak Tertolong St Brutus.
   Harry menyaksikan figur-figur gelap itu menyeberangi rumput dan bertanya-tanya siapa yang telah mereka pukuli malam ini. Lihat sekeliling, Harry menemukan dirinya berpikir selagi dia memperhatikan mereka. Ayolah ... lihat sekeliling ... aku sedang duduk di sini sendirian ... datang dan hadapilah ...
   Jika teman-teman Dudley melihatnya duduk di sini, mereka pasti akan berjalan lurus ke arahnya, dan apa yang akan dilakukan Dudley nanti? Dia tidak akan mau kehilangan muka di depan gengnya, tetapi dia pasti takut mengganggu Harry ... pastilah menyenangkan menyaksikan dilema Dudley, mengejeknya, memperhatikannya, dengan dirinya tidak berdaya menanggapi ... dan jika yang lain ada yang berani memukul Harry, dia sudah siap -- dia punya tongkatnya. Biar mereka coba ... dia akan senang menyalurkan sedikit rasa frustrasinya kepada anak-anak yang dulu pernah membuat hidupnya seperti neraka.
   Tetapi mereka tidak menoleh, mereka tidak melihatnya, mereka sudah hampir sampai di jeruji. Harry menguasai desakan untuk memanggil mereka ... mencari perkelahian bukanlah langkah pintar ... dia tidak boleh menggunakan sihir ... dia akan terancam dikeluarkan lagi.
   Suara-suara geng Dudley mulai menghilang; mereka sudah hilang dari pandangan, berjalan di sepanjang Magnolia Road.
   Begitulah, Sirius, pikir Harry dengan jemu. Tidak ada yang gegabah. Jaga tingkah lakuku. Benar-benar berlawanan dengan yang telah kamu lakukan.
   Dia berdiri dan merenggangkan tubuhnya. Bibi Petunia dan Paman Vernon sepertinya merasa bahwa kapanpun Dudley muncul adalah waktu yang tepat untuk tiba di rumah, dan kapanpun setelahnya sudah sangat terlambat. Paman Vernon telah mengancam untuk mengunci Harry di gudang jika dia pernah pulang ke rumah setelah Dudley lagi, jadi, sambil menahan kuap, dan masih cemberut, Harry berjalan menuju gerbang taman.
   Magnolia Road, seperti Privet Drive, dipenuhi rumah-rumah besar berbentuk bujursangkar dengan halaman-halaman yang terawat rapi, semuanya dimiliki oleh orang-orang bertubuh besar dan ketinggalan zaman yang mengendarai mobil-mobil bersih seperti milik Paman Vernon. Harry lebih menyukai Little Whinging pada malam hari, ketika jendela-jendela bergorden membentuk potongan-potongan warna seterang permata dalam kegelapan dan dia tidak takut mendengar gumaman-gumaman mencela mengenai penampilannya yang 'menyalah' ketika dia berpapasan dengan para penghuni. Dia berjalan dengan cepat, sehingga setengah jalan di sepanjang Magnolia Road geng Dudley tampak lagi; mereka sedang berpamitan di jalan masuk ke Magnolia Crescent. Harry melangkah ke dalam bayang-bayang sebuah pohon lilac besar dan menunggu.
   '... mendengking seperti seekor babi, benar kan?' Malcolm sedang berbicara, ditimpali tawa terbahak-bahak dari yang lainnya.
   'Pukulan hook kanan yang bagus, Big D,' kata Piers.
   'Waktu yang sama besok?' kata Dudley.
   'Di tempatku, orang tuaku akan keluar,' kata Gordon.
   'Sampai jumpa,' kata Dudley.
   'Bye, Dud!'
   'Jumpa lagi, Big D!'
   Harry menanti anggota geng yang lainnya berjalan terus sebelum mulai melangkah lagi. Ketika suara-suara mereka sekali lagi telah berangsur hilang dia menuju belokan di sudut ke Magnolia Crescent dan dengan berjalan sangat cepat dia segera sampai ke jarak teriakan dengan Dudley, yang sedang berjalan santai sekena hatinya sambil bersenandung tanpa nada.
   'Hei, Big D!'
   Dudley menoleh.
   'Oh,' dia menggerutu. 'Ternyata kamu.'
   'Sudah berapa lama kau jadi "Big D"?' kata Harry.
   'Diamlah,' gertak Dudley, menoleh ke arah lain.
   'Nama yang keren,' kata Harry, menyeringai dan tertinggal di belakang sepupunya. 'Tapi bagiku kau akan selalu jadi "Ickle Diddykins".'
   'Kataku, DIAM!' kata Dudley, tangan-tangannya yang seperti ham telah mengepal.
   'Apa anak-anak itu tidak tahu itu begitulah ibumu memanggilmu?'
   'Tutup mulutmu.'
   'Kau tidak menyuruh ibumu untuk menutup mulutnya. Bagaimana dengan "Popkin" dan "Dinky Diddydums", bolehkah aku menggunakannya?'
   Dudley tidak mengatakan apa-apa. Usaha untuk mencegah dirinya memukul Harry tampaknya menuntut semua pengendalian dirinya.
   'Jadi, siapa yang telah kalian pukuli malam ini?' Harry bertanya, seringainya memudar. 'Anak umur sepuluh tahun lagi? Aku tahu kalian memukuli Mark Evans dua malam lalu --'
   'Dia yang minta,' gertak Dudley.
   'O ya?'
   'Dia mengejekku.'
   'Yeah? Apakah dia bilang kau tampak seperti babi yang diajari berjalan dengan kaki belakangnya? Kar'na itu bukan ejekan, Dud, itu benar.'
   Sebuahl otot berdenyut di rahang Dudley. Mengetahui seberapa marah dia telah membuat Dudey memberi Harry kepuasan yang sangat besar; dia merasa seakan dia sedang mengalirkan rasa frustrasinya sendiri kepada sepupunya, satu-satunya pengeluaran yang dimilikinya.
   Mereka berbelok ke kanan ke gang sempit di mana Harry pertama kali berjumpa dengan Sirius dan yang membentuk jalan pintas antara Magnolia Crescent dan Wisteria Walk. Gang itu sepi dan jauh lebih gelap daripada jalan-jalan yang dihubungkannya karena tidak ada lampu jalan. Langkah-langkah kaki mereka teredam antara dinding-dinding garasi di satu sisi dan sebuah pagar tinggi di sisi lainnya.
   'Pikirmu kau orang kuat membawa benda itu, 'kan?' Dudley berkata setelah beberapa detik.
   'Benda apa?'
   'Itu -- benda itu yang kau sembunyikan.'
   Harry nyengir lagi.
   'Tidak sebodoh tampangmu, ya, Dud? Tapi kurasa, jika memang begitu, kau tak bakal bisa jalan dan ngomong pada saat yang sama.'
   Harry menarik tongkatnya. Dia melihat Dudley mengerlingnya.
   'Kau tidak diizinkan,' Dudley berkata dengan segera. 'Aku tahu kau tidak boleh. Kau akan dikeluarkan dari sekolah anehmu itu.'
   'Bagaimana kau tahu mereka belum mengubah peraturannya, Big D?'
   'Belum,' kata Dudley, walaupun dia tidak terdengar sepenuhnya yakin.
   Harry tertawa pelan.
   'Kau tak punya nyali untuk menghadapiku tanpa benda itu, ya 'kan?' Dudley menggertak.
   'Sementara kau hanya butuh empat teman di belakangmu sebelum bisa memukuli seorang anak umur sepuluh tahun. Kau tahu gelar tinju yang terus kau banggakan? Berapa umur lawanmu? Tujuh? Delapan?'
   'Dia berumur enam belas, supaya kamu tahu,' gertak Dudley, 'dan dia pingsan selama dua puluh menit setelah aku selesai dengannya dan dia dua kali beratmu. Kau tunggu saja sampai kuberitahu Ayah kau membawa benda itu keluar --'
   'Berlari kepada Ayah sekarang? Apakah juara tinju jempolan takut pada tongkat Harry yang mengerikan?'
   'Tidak seberani ini pada malam hari, 'kan?' cemooh Dudley.
   'Ini memang malam, Diddykins. Itulah sebutan kami ketika semuanya jadi gelap seperti ini.'
   'Maksudku ketika kau sedang tidur!' gertak Dudley.
   Dia telah berhenti berjalan. Harry berhenti juga, menatap sepupunya. Dari sedikit wajah Dudley yang dapat dilihatnya, dia sedang menunjukkan wajah kemenangan yang aneh.
   'Apa maksudmu, aku tidak berani ketika sedang tidur?' kata Harry, sama sekali tercengang. 'Apa yang harus kutakutkan, bantal atau apa?'
   'Aku dengar kau kemarin malam,' kata Dudley terengah-engah. 'Berbicara dalam tidur. Mengerang.'
   'Apa maksudmu?' Harry berkata lagi, tetapi ada sensasi dingin yang timbul di perutnya. Dia telah mengunjungi pemakaman itu lagi kemarin malam dalam mimpinya.
   Dudley mengeluarkan salak tawa yang parau, lalu menirukan suara rengekan melengking.
   '"Jangan bunuh Cedric! Jangan bunuh Cedric!" Siapa Cedric -- temanmu?'
   'Aku -- kau bohong,' kata Harry secara otomatis. Tetapi mulutnya telah menjadi kering. Dia tahu Dudley tidak sedang  berbohong -- bagaimana lagi dia bisa tahu mengenai Cedric?
   '"Dad! Bantu aku, Dad! Dia akan membunuhku, Dad! Boo hoo!"'
   'Diam,' kata Harry pelan. 'Diam, Dudley, kuperingatkan kau!'
   '"Datanglah dan tolong aku, Dad! Mum, datang dan tolong aku! Dia sudah membunuh Cedric! Dad, tolong aku! Dia akan --" Jangan tunjuk aku dengan benda itu!'
   Dudley mundur ke tembok gang. Harry sedang menunjuk tongkatnya lurus ke jantung Dudley. Harry dapat merasakan empat belas tahun kebencian terhadap Dudley menggelegak dalam nadinya -- apa yang takkan diberikannya untuk mengutuk Dudley sedemikian rupa sehingga dia harus merangkak pulang seperti seekor serangga, menjadi bisu, tumbuh antena ...
   'Jangan pernah berbicara mengenai hal itu lagi,' gertak Harry. 'Kau mengerti?'
   'Tunjuk itu ke arah lain!'
   'Kataku, kau mengerti?'
   'Tunjuk itu ke arah lain!'
   'KAU MENGERTI?'
   'JAUHKAN BENDA ITU DARI --'
   Dudley mengeluarkan suara napas tajam penuh rasa ngeri, seakan-akan dia telah dicemplungkan ke dalam air es. Sesuatu telah terjadi pada langit malam itu. Langit biru gelap yang penuh bintang mendadak gelap gulita dan tanpa cahaya -- bintang-bintang, bulan, lampu-lampu jalan berkabut pada kedua sisi gang telah menghilang. Suara mobil di kejauhan dan bisikan pohon-pohon telah hilang. Malam yang lembab itu mendadak dingin menusuk. Mereka dikelilingi kegelapan total yang tidak tertembus dan hening, seakan-akan tangan raksasa telah menurunkan mantel tebal yang dingin menutupi keseluruhan gang itu, membutakan mereka.
   Selama sepersekian detik Harry berpikir bahwa dia telah melakukan sihir tanpa disengajanya, walaupun dia telah menahan sekuat mungkin -- lalu nalarnya menyangkut di akal sehatnya -- dia tidak mempunyai kekuatan untuk memadamkan bintang-bintang. Dia menolehkan kepalanya ke segala arah, mencoba melihat sesuatu, tetapi kegelapan mendesak matanya seperti tudung yang tidak berbobot.
   Suara Dudley yang ketakutan sampai ke telinga Harry.
   'A-apa yang sedang kau la-lakukan? Hen-hentikan!'
   'Aku tidak melakukan apapun! Diamlah dan jangan bergerak!'
   'Aku tak d-dapat melihat! Aku sudah j-jadi buta! Aku --'
   'Kubilang diam!'
   Harry masih berdiri diam, menolehkan matanya yang tidak dapat melihat ke kiri dan ke kanan. Rasa dingin itu begitu hebat sehingga dia gemetaran; bulu romanya berdiri -- dia membuka matanya lebar-lebar, menatap kosong ke sekitar, tanpa melihat apa-apa.
   Tidak mungkin ... mereka tidak mungkin berada di sini ... tidak di Little Whinging ... dia menajamkan telinganya ... dia akan mendengar mereka sebelum melihat mereka ...
   'Akan ku-kuadukan pada Dad!' Dudley merengek. 'D-di mana kau? Apa yang kau la-laku--?'
   'Bisakah kamu diam?' Harry mendesis, 'Aku sedang mencoba mende--'
   Tetapi dia terdiam. Dia telah mendengar hal yang telah ditakutkannya.
   Ada sesuatu di gang itu selain mereka, sesuatu yang menarik napas panjang, serak, dan berderak. Harry merasakan sentakan rasa takut yang mengerikan sementara dia berdiri gemetaran di udara yang membeku.
   'Hen-hentikan itu! Berhenti melakukannya! Kan ku-kupukul kau, aku sumpah!'
   'Dudley, tutup --'
   WHAM.
   Sebuah kepalan mengadakan kontak dengan sisi kepala Harry, mengangkatnya dari kakinya. Cahaya-cahaya putih kecil bermunculan di depan matanya. Untuk kedua kalinya dalam satu jam Harry merasa seakan-akan kepalanya telah terbelah menjadi dua; saat berikutnya, dia telah mendarat dengan keras di tanah dan tongkatnya melayang dari tangannya.
   'Dasar bodoh, Dudley!' teriak Harry, matanya berair karena sakit sementara dia berjuang dengan tangan dan lututnya, meraba-raba sekeliling dengan kalut ke dalam kegelapan. Dia mendengar Dudley menjauh, menabrak pagar gang, tersandung.
   'DUDLEY, KEMBALI! KAU LARI KE ARAHNYA!'
   Ada teriakan mendengking yang mengerikan dan langkah-langkah Dudley berhenti. Pada saat yang sama, Harry merasakan hawa dingin yang merayap di belakangnya yang hanya berarti satu hal. Ada lebih dari satu.
   'DUDLEY, TUTUP MULUTMU RAPAT-RAPAT! APAPUN YANG KAU LAKUKAN, TUTUP MULUTMU RAPAT-RAPAT! Tongkat!' Harry bergumam dengan kalut, tangannya melayang di atas tanah seperti laba-laba. 'Di mana -- tongkat -- ayolah -- lumos!'
   Dia menyebutkan mantera itu secara otomatis, putus asa akan cahaya untuk membantunya dalam pencarian -- dan demi ketidakpercayaannya yang melegakan, timbul cahaya beberapa inci dari tangan kanannya -- ujung tongkat itu telah menyala. Harry menyambarnya, berdiri pada kedua kakinya dan berbalik.
   Perutnya terasa terbalik.
   Sebuah figur tinggi bertudung sedang meluncur dengan mulus ke arahnya, melayang di atas tanah, tanpa kaki atau wajah yang tampak di bawah jubahnya, menghisap malam ketika dia datang.
   Tersandung ke belakang, Harry menaikkan tongkatnya.
   'Expecto patronum!'
   Sebuah gumpalan uap berwarna perak meluncur dari ujung tongkatnya dan Dementor itu melambat, tetapi mantera itu tidak bekerja dengan tepat; sambil terjegal kakinya sendiri, Harry mundur lebih jauh sementara Dementor itu menuju ke arahnya, panik menyelimuti otaknya -- konsentrasi --
   Sepasang tangan kelabu yang berlumpur dan berkeropeng menyelip dari dalam jubah Dementor itu, menggapai dirinya. Suara deru memenuhi telinga Harry.
   'Expecto patronum!'
   Suaranya terdengar suram dan jauh. Gumpalan asap perak lain, lebih lemah daripada yang lalu, melayang dari tongkat -- dia tidak dapat melakukannya lagi, dia tidak dapat menghasilkan mantera itu.
   Ada tawa di dalam kepalanya sendiri, tara yang nyaring dan melengking ... dia dapat mencium bau napas Dementor yang busuk dan sedingin kematian mengisi paru-parunya sendiri, menenggelamkannya -- pikirkan ... sesuatu yang membahagiakan ...
   Tetapi tidak ada kebahagiaan dalam dirinya ... jari-jari Dementor yang dingin mendekati tenggorokannya -- tawa melengking itu semakin keras dan semakin keras, dan sebuah suara berkata dalam kepalanya: 'Membungkuklah pada kematian, Harry ... mungkin saja tidak sakit ... aku tidak akan tahu ... aku belum pernah mati ...'
   Dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Ron dan Hermione --
   Dan wajah-wajah mereka timbul dengan jelas dalam pikirannya sementara dia berjuang untuk bernapas.
   'EXPECTO PATRONUM!'
   Seekor kijang jantan perak yang besar muncul dari ujung tongkat Harry; tannduknya mengenai Dementor di tempat di mana jantung seharusnya berada; dia terlempar ke belakang, tak berbobot seperti kegelapan, dan sementara kijang itu menyerang, Dementor menukik pergi, seperti kelelawar dan kalah.
   'KE SINI!' Harry berteriak kepada kijang itu. Sambil berputar, dia berlari menyusuri gang, memegang tongkat yang menyala tinggi-tinggi. 'DUDLEY? DUDLEY!'
   Dia belum lagi berlari selusin langkah ketika dia mencapai mereka: Dudley bergelung di atas tanah, lengannya menutupi wajahnya. Dementor kedua sedang membungkuk rendah ke arahnya, mencengkeram pergelangan tangannya ke dalam tangan-tangannya yang berlumpur, pelan-pelan mengungkitnya, hampir penuh kasih memisahkannya, menurunkan kepalanya yang bertudung ke  wajah Dudley seperti akan menciumnya.
   'HAJAR DIA!' Harry berteriak, dan dengan sebuah deru yang menggelegar, kijang perak yang telah disihirnya datang berderap melewatinya. Wajah Dementor yang tidak bermata hampir satu inci dari wajah Dudley ketika tanduk perak itu mengenainya; benda itu terlembar ke udara dan, seperti kawannya, meluncur tinggi dan diserap ke dalam kegelapan; si kijang berlari ke tengah gang dan meluruh menjadi kabut perak.
   Bulan, bintang-bintang dan lampu-lampu jalan muncul kembali. Angin sepoi-sepoi yang hangat menyapu gang itu. Pohon-pohon berdesir di kebun-kebun sekitar dan suara mobil-mobil yang biasa di Magnolia Crescent memenuhi udara lagi. Harry berdiri diam, semua inderanya masih bergetar, merasakan kembalinya normalitas yang mendadak. Setelah beberapa saat, dia menjadi sadar bahwa baju kaosnya melekat ke tubuhnya; dia basah kuyup oleh keringat.
   Dia tidak dapat mempercayai apa yang baru saja terjadi. Dementor di sini, di Little Whinging.
   Dudley berbaring menggulung di atas tanah, gemetar dan merengek-rengek. Harry membungkuk untuk melihat apakah dia mampu berdiri, tetapi kemudian dia mendengar langkah-langkah kaki keras yang sedang berlari di belakangnya. Menuruti nalurinya sambil menaikkan tongkatnya lagi, dia berbalik untuk menghadapi si pendatang baru.
   Mrs Figg, tetangga mereka yang agak sinting, datang terengah-engah. Rambutnya yang kelabu beruban berlepasan dari jala rambut, sebuah tas belanjaan yang berkelontang berayun-ayun dari pergelangan tangannya dan kaki-kakinya hampir setengah keluar dari selop karpet tartannya. Harry mencoba menyimpan tongkatnya dengan terburu-buru ke luar pandangan, tetapi --
   'Jangan simpan itu, anak idiot!' lengkingnya. 'Bagaimana jika masih ada lagi di sekitar sini? Oh, akan kubunuh si Mundungus Fletcher!'

Next

Tidak ada komentar:

Posting Komentar